{"id":790,"date":"2024-12-10T06:53:17","date_gmt":"2024-12-10T06:53:17","guid":{"rendered":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/?p=790"},"modified":"2026-02-22T14:32:16","modified_gmt":"2026-02-22T14:32:16","slug":"kunjungan-rig-smeei-menuju-batik-peranakan-kota-cirebon","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/2024\/12\/10\/kunjungan-rig-smeei-menuju-batik-peranakan-kota-cirebon\/","title":{"rendered":"Kunjungan RIG SMEEI menuju Batik Peranakan Kota Cirebon"},"content":{"rendered":"<p style=\"text-align: justify\">Batik merupakan salah satu tradisi yang sering dilatih dengan membuat karya seni motif yang dibuat dengan menggunakan alat bantu yaitu canting. Setiap daerah memiliki motif ciri khas unik yang berbeda-beda, hal ini yang dapat membuat perbedaan asal mula dari beraneka ragam motif batik.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada sesi ini saya akan menceritakan pengalaman dalam mengikuti acara kunjungan menuju Salah satu batik yang terkenal di kota Cirebon. Maka dari itu simaklah cerita yang terdapat di bawah berikut ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-792\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/1.png\" alt=\"\" width=\"182\" height=\"279\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-793\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/2.png\" alt=\"\" width=\"422\" height=\"279\" \/>Kedua Gambar diatas memiliki ruangan yang saling terhubung<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Pada tanggal 4 November 2024, Tim RIG Internship Binus Bandung melakukan kegiatan kunjungan menuju kota Cirebon untuk mengunjungi salah satu toko batik yang bernama Batik Peranakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dimulai dari pukul 07:00, seluruh anggota RIG Intenrship diharuskan datang menuju Lokasi titik kumpul yang berada di lobby Hejo Paskal 23. Selanjutnya pada pukul 8.30, Setelah semua anggota RIG dan dosen yang berpatisipasi sudah lengkap dan siap untuk berangkat, lalu kami segera menaiki transportasi yang dimiliki oleh Binus Bandung.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Para pembaca dari article ini sudah tidak heran dengan tujuan destinasi yang akan dikunjungi oleh RIG SMEEI. Lokasi tersebut berada di Kota Cirebon yang kita kenal mempunyai sebuah julukan sebagai kota wali dan kota udang. Kembali lagi, RIG SMEEI akan mengunjungi satu tempat yang special di kota Cirebon yaitu Batik Peranakan yang berlokasi di pasar kanoman kota Cirebon. Seiring perjalanan berlalu, durasi perjalanan dari Kota Bandung menuju Kota Cirebon memakan waktu sekitar 2 jam melalui tol.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berikuntya, Tim RIG sampai menuju kota tujuan Cirebon pada pukul 11, kemudian sebelum mengunjungi batik peranakan, kami pergi terlebih dahulu \u00a0untuk makan siang dengan \u00a0berkunjung ke salah satu kuliner paling populer yang ada di Kota Cirebon yaitu Nasi Jamblang Pelabuhan (Hj. Sumarni) yang berlokasi di jalan Yos Sudarso No. 1 Kota Cirebon. Kemudian kami segera berangkat menuju pasar kanoman untuk mengunjungi Batik Peranakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-794\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/3.png\" alt=\"\" width=\"349\" height=\"279\" \/>Gambar diatas berikut merupakan tampilan depan toko dengan Ibu Lina<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Setelah sampai pada Lokasi tujuan, kami disambut oleh pemilik dari Batik Pernakan beranama Bu Lina yang dapat dilihat dari gambar diatas berikut. Masing \u2013 masing dari anggota RIG memberikan salam perkenalan kepada pemilik batik peranakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selanjutnya, tujuan sebenarnya dari kunjungan RIG SMEEI menuju batik peranakan di kota Cirebon adalah untuk mengumpulkan informasi \u2013 informasi menyangkut batik peranakan agar dapat dibuat sebuah content dengan tujuan memperkenalkan batik pernakan kepada Masyarakat dalam negeri maupun luar negeri, content tersebut dapat berupa article ataupun content yang di posting pada social media.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-796\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/4.png\" alt=\"\" width=\"602\" height=\"296\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kembali lagi menuju kunjungan RIG ke Batik peranakan, kita diajak untuk pergi ke ruang tamunya, lalu sesampai pada tempatnya kami tim RIG Intenship mulai mengeluarkan alat-alat yang diperlukan untuk melakukan metode pengumpulan informasi seperti kamera dan perekam audio.<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berikut di bawah ini merupakan beberapa contoh kegiatan yang kami lakukan untuk mendukung proses kami dalam pembuatan konten batik peranakan.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-797\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/5.png\" alt=\"\" width=\"532\" height=\"324\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kegiatan yang diatas berikut merupakan proses interview yang dilakukan dari pemilik batik peranakan yaitu bu Lina, pada proses ini salah satu anggota RIG menanyakan beberapa pertanyaan penting contohnya seperti bagaimana Sejarah dan asal mula dari batik peranakan ini, motif batik apa yang paling sulit dibuat sehingga memakan waktu yang lama, apakah ada kesulitan dalam melakukan proses pembatikan, dan pertanyaan lainnya.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-798\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/6.png\" alt=\"\" width=\"513\" height=\"295\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Beliau juga menjelaskan beberapa batik pada saat proses melakukan interview, yang dimulai dari nama batik, lalu alasan dibalik nama tersebut menjadi nama batiknya, inspirasi dari motif batik, dan makna asli dari batik tersebut. Semua hal tersebut dijelaskan dengan baik oleh bu Lina.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-799\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/7.png\" alt=\"\" width=\"481\" height=\"318\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Selanjutnya kegiatan berikutnya kita dapat melihat proses pembuatan batik tulis oleh ibu Lina secara langsung, dapat dilihat gambar diatas merupakan proses Nglowong yang merupakan tahap awal proses pembuatan garis dan pola batiknya dengan bantuan alat yang bernama canting seperti dibawah berikut ini.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-800\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/8.png\" alt=\"\" width=\"468\" height=\"303\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Berikutnya, setelah kami menyelesaikan to do list yang sudah direncakan sebelumnya untuk membantu kita mengingat tugas apa saja yang harus dilakukan untuk mengumpulan informasi yang diperlukan. Lalu kami melakukan foto sesi akhir dengan pemilik batik peranakan di pasar kanoman Kota Cirebon. Gambar dibawah ini menjadi bukti bahwa RIG SMEEI pernah melakukan kunjungan menuju batik peranakan.<\/p>\n<p style=\"text-align: center\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-801\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/9.png\" alt=\"\" width=\"366\" height=\"487\" \/>Sesi Foto bareng tim RIG SMEEI berserta bu Lina selaku pemilik batik Peranakan<\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Kegiatan tersebut selesai pada pukul 3 sore, dan sebelum balik ke kota Bandung kami mengujungi salah satu makanan populer di kota Cirebon yaitu Empal Gentong yang masih berada di pasar Kanoman yang berlokasi di dekat batik peranakan. Dan kami juga membeli kerupuk Melarat yang proses penggorengan menggunakan pasir.<\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-802\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/10.png\" alt=\"\" width=\"432\" height=\"286\" \/><\/p>\n<p><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" class=\"aligncenter size-full wp-image-804\" src=\"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-content\/uploads\/sites\/22\/2024\/12\/12.png\" alt=\"\" width=\"435\" height=\"174\" \/><\/p>\n<p style=\"text-align: justify\">Dan pada pukul 3.50 kami para tim RIG Internship serta dosen yang ikut berpatisipasi menaiki kembali transportasi untuk segera berangkat dan meninggalkan kota Cirebon agar dapat pulang menuju kota Bandung. Dan perjalanan tersebut menghabiskan waktu sekitar 2 jam, sehingga kami sampai pada tujuan yaitu lobby Hejo paskal 23 pada sekitar jam 6 dikarenakan macet yang ditemukan saat sampai di kota Bandung. Sehingga kegiatan perjalanan kunjungan kami menuju Batik Peranakan Kanoman di kota Cirebon telah dilaksanakan dengan lancar.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Batik merupakan salah satu tradisi yang sering dilatih dengan membuat karya seni motif yang dibuat dengan menggunakan alat bantu yaitu canting. Setiap daerah memiliki motif ciri khas unik yang berbeda-beda, hal ini yang dapat membuat perbedaan asal mula dari beraneka ragam motif batik. Pada sesi ini saya akan menceritakan pengalaman dalam mengikuti acara kunjungan menuju [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":47,"featured_media":791,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[51,11,53,50,49,10,9,7,8,52,48],"class_list":["post-790","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-kegiatan-rig","tag-batik-peranakan","tag-binus-bandung","tag-budaya","tag-kota-cirebon","tag-kunjungan","tag-rig-bandung","tag-rig-binus","tag-rigsmeei","tag-smeei","tag-tradisional","tag-visit"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/790","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/users\/47"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=790"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/790\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":808,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/790\/revisions\/808"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/media\/791"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=790"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=790"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/smeei\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=790"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}