{"id":118,"date":"2018-09-21T07:52:38","date_gmt":"2018-09-21T07:52:38","guid":{"rendered":"http:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/?p=118"},"modified":"2018-09-21T08:40:07","modified_gmt":"2018-09-21T08:40:07","slug":"wonderful-indonesia-menjadi-topik-riset-rig-crosscomm","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/2018\/09\/21\/wonderful-indonesia-menjadi-topik-riset-rig-crosscomm\/","title":{"rendered":"Wonderful Indonesia menjadi Topik Riset RIG CrossComm"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400\">Kekayaan dan pesona alam Indonesia jelas merupakan hal yang sangat menarik. Program Wonderful Indonesia menjadi topik hangat dan sangat cair untuk didiskusikan. Pariwisata Indonesia telah dilirik sebagai sumber devisa negara, oleh karena itu kampanye visit Indonesia melalui Wonderful Indonesia patut diberi perhatian. RIG CrossComm pada tahun 2017 melakukan review dan assessment terhadap dua alat media branding pariwisata di Indonesia ini, yaitu pada Web Indonesia Tarvel dari Kementrian Pariwisata Indonesia dan Iklan di televise tentang Pariwisata Banyuwangi. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Riset yang pertama bertujuan untuk menguji tentang usability web <\/span><a href=\"http:\/\/www.indonesia.travel\/en\"><span style=\"font-weight: 400\">http:\/\/www.indonesia.travel\/en<\/span><\/a><span style=\"font-weight: 400\"> sehingga pada akhirnya dapat memberi masukan ke kementrian pariwisata Republik Indonesia. Konsep yang digunakan adalah dari usabilitygeek.com yang menyebutkan tentang tiga kategori utama untuk usability testing, yaitu explorative, assessment dan comparative dengan para user adalah tiga kelas mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Binus, \u00a0dengan jumlah keseluruhan adalah 120 orang. Metodologi yang digunakan adalah kuantitatif desktiptif, dengan teknik pengumpulan data melalui kuesioner and wawancara.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Sedangkan riset kedua adalah Iklan Televisi sebagai salah satu kegiatan promosi Wonderful Indonesia. Iklan di televisi (TVC) ini, \u00a0baik televisi nasional Indonesia, maupun pay-tv yang ditayangkan di berbagai negara. Review adan assessment pada iklan ini dilandasi bahwa \u00a0pada tahun 2016, Indonesia menduduki peringkat 47 dari 144 negara. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menemukan makna simbolik yang ditampilkan secara visual di TVC versi Indonesia yang luar biasa dari A Visual Journey melalui Banyuwangi. Dengan demikian akan tercermin makna konotatif dan denotatif yang terkandung dalam visualisasi TVC. Identitas tanda-tanda Indonesia dan filsafat budaya yang ditunjukkan dalam visualisasi TVC. Metode penelitian menggunakan analisis semiotik Roland Barthes yang menganggap bahwa kehidupan sosial adalah tanda sistemnya sendiri. Metode ini juga merupakan keunggulan dari RIG CrossComm karena pengalaman peneliti nya memungkinkan metode interpretif dilaksanakan dengan maksimal.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Kedua hasil penelitian ini sudah dipresentasikan di International Conference dan papernya sudah dapat dideteksi di web Scopus untuk Usability testing, sedangkan untuk A Visual Journey \u00a0sudah diterima dalam proses pencetakan publikasi di Journal Social Science and Humanity Pertanika. (Ulani Yunus)<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kekayaan dan pesona alam Indonesia jelas merupakan hal yang sangat menarik. Program Wonderful Indonesia menjadi topik hangat dan sangat cair untuk didiskusikan. Pariwisata Indonesia telah dilirik sebagai sumber devisa negara, oleh karena itu kampanye visit Indonesia melalui Wonderful Indonesia patut diberi perhatian. RIG CrossComm pada tahun 2017 melakukan review dan assessment terhadap dua alat media [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":18,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-118","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/18"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=118"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":121,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/118\/revisions\/121"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=118"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=118"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=118"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}