{"id":105,"date":"2018-09-20T09:14:54","date_gmt":"2018-09-20T09:14:54","guid":{"rendered":"http:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/?p=105"},"modified":"2018-09-20T09:16:19","modified_gmt":"2018-09-20T09:16:19","slug":"proses-riset-dan-penalarannya-dalam-ilmu-ilmu-empiris-2","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/2018\/09\/20\/proses-riset-dan-penalarannya-dalam-ilmu-ilmu-empiris-2\/","title":{"rendered":"Proses Riset dan Penalarannya dalam Ilmu-ilmu Empiris"},"content":{"rendered":"<p><b><\/b><b>1. Proses Riset<\/b><\/p>\n<p><b><i>Langkah-langkah apa yang harus diambil untuk penelitian ilmiah?<\/i><\/b><\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Menyusun hipotesis-hipotesis (titik tolak: problem\/anomali; observasi; perumusan problem)<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Mencoba memberi bukti dan penalaran atas hipotesis tsb.<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Hipotesis yang diperkuat mendapat status hukum<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\">Hukum-hukum serumpun diabstraksi menjadi teori ilmiah<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><i>Apa itu \u201econtext of discovery\u201cdalam sebuah riset ilmiah?<\/i><\/b><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Context of discovery <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">adalah proses mengidentifikasi masalah berdasarkan munculnya anomali-anomali atau problem dan menyusun hipotesis untuk memecahkannya. Di dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">context of discovery<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> peneliti menemukan kejanggalan-kejangalan yang muncul dalam hidup sehari-hari. Hidup sehari-hari ditandai oleh kebenaran-kebenaran yang diandaikan atau diterima begitu saja( <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">taken for granted<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> \/<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">selbstverst\u00e4ndlich<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Manakala kebenaran-kebenaran itu digoncangkan oleh sebuah anomali, muncullah problem. Contoh: kebenaran yang taken for granted -&gt; horror vacui, geosentrisme, demam bersalin. Dari mana kebenaran ini? Dari anggapan seseorang atau suatu kelompok yang kemudian menjadi bagian dari akal-sehat (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">common sense<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">) kita.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Apa itu context of justification suatu riset ilmiah?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">C<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">ontext of justification<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> adalah proses memberikan pendasaran-pendasaran logis dari hasil-hasil temuan. Lewat proses <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">reasoning <\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">ini hasil temuan dikomunikasikan dan memperoleh pengakuan di dalam sebuah komunitas para ilmuwan. Hukum dan teori ilmiah tercakup di sini. Di dalam <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">context of justification<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> peneliti mencoba mencari pendasaran\/alasan rasional dari hipotesis-hipotesisnya dengan bukti-bukti empiris.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol start=\"2\">\n<li><b> Macam-macam Langkah Hipotetis<\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><i>Bagaimana merumuskan hipotesis?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam ilmu-ilmu empiris justifikasi sebuah hipotesis bisa melalui jalan yang berliku-liku. Sasarannya adalah memperkuat sebuah hipotesis dengan meruncingkannya menjadi semakin spesifik dan semakin konkret-empiris. Dengan kata lain, makin konkret dan empiris sebuah hipotesis dan makin mudah untuk dibuktikan salah, makin bermaknalah (sebut \u201eilmiah\u201c) hipotesis itu. Sebaliknya, makin abstrak dan kurang empiris, makin sulit dibuktikan salah, makin kurang bermaknalah hipotesis itu. Langkah-langkah hipotetis itu adalah:<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<ol>\n<li style=\"font-weight: 400\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Hipotesis yang diperluas<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">: Hipotesis yang kehilangan isi empiris karena ditambahi dengan hipotesis pembantu yang kurang empiris, seperti: vacuum itu sebenarnya berisi ether<\/span><\/li>\n<li style=\"font-weight: 400\"><i><span style=\"font-weight: 400\">Hipotesis yang diperinci<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">: Hipotesis yang menjadi makin empiris karena dipersempit ke hal-hal konkret empiris, seperti: cuci tangan dengan larutan CaCl2 (untuk menangkal racun mayat); atau gerak mengitari matahari secara elips<\/span><\/li>\n<\/ol>\n<h5><b>3. Hukum Alam<\/b><\/h5>\n<p><b><i>Apa itu hukum alam? Dan bagaimana hubungannya dengan hipotesis?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hipotesis yang makin konkret, pasti dan empiris berubah menjadi hukum alam. Cirinya: lebih berlaku umum, lebih niscaya, lebih eksplanatoris. Karena hukum berkaitan erat dengan hipotesis, hukum alam masih bersifat empiris.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><i>Bagaimana tanda sebuah hipotesis telah berubah menjadi hukum?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tanda bahwa hipotesis telah berubah menjadi hukum alam: bisa diaplikasikan secara teknis (justru karena kesahihannya). Catatan: Ilmuwan tetap skeptis terhadap pemakaian istilah hukum alam karena hubungan kausal tidak selalu bisa dibuktikan kebenarannya dan berciri metafisis (tak empiris).<\/span><\/p>\n<p><b><i>Bagaimanakah bentuk rumusan dari hukum alam itu?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Bentuk linguistis dari hukum alam adalah penjelasan deduktif nomologis<\/span><\/p>\n<p><i><span style=\"font-weight: 400\">Dalam hidup sehari-hari:<\/span><\/i><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Mengapa air itu mendidih&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;-<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u2192<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> \u00a0explanans<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Tentu saja, karena dipanasi sampai 100 derajat&#8212;&#8212;<\/span><span style=\"font-weight: 400\">\u2192<\/span><span style=\"font-weight: 400\"> \u00a0expalandum<\/span><\/p>\n<ol start=\"4\">\n<li><b> <\/b><b>Hukum dan Generalisasi. <\/b><\/li>\n<\/ol>\n<p><b><i>Apakah perbedaan antara hukum dan generalsasi belaka?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Perbedaannya: hukum dapat merupakan dasar \u201econtrary-to-fact-conditionals\u201c (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">kontrafaktische Wennsatze<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">). Misalnya, \u201ebila air dipanasi 100 derajat, maka air akan mendidih\u201c. Ini bisa merupakan hukum. Tapi \u201ebila batu diletakkan dalam peti berisi besi, maka batu akan mengandung besi juga\u201c bukanlah hukum, melainkan generalisasi dari \u201esemua isi peti adalah besi\u201c. <\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><b><i>Bagaimanakah hubungan antara hukum dan probabilitas?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dari probabilitas yang ditarik dari kalkulasi statistis kita tak dapat menyimpulkan suatu hukum. Mengapa? Karena baik keberlakuannya maupun ketakberlakuannya bersifat tidak pasti dan tak dapat diterangkan secara deduktif-nomologis. Misalnya: Kemungkinan perampokan di bank terjadi saat bank sepi pengunjung. Bank X dirampok kemarin. Jadi, kemungkinan waktu itu bank X sedang sepi pengunjung. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Dalam percobaan dengan melempar coin atau mengambil kelereng kita menyimpulkan nilai kemungkinan berada di antara 0 dan 1. Probabilitas yang paling lemah adalah 0,001, sedangkan yang paling kuat adalah 0,999. \u201eDi antara\u201c berarti tak pernah pasti, atau sekurangnya mendekati kepastian. Spektrumnya: <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">improbable<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> \u2013 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">possible<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\"> \u2013 <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">probable<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">.<\/span><\/p>\n<p><b><i>Bagaimanakah ciri-ciri hukum yang bersifat barangkali?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Ciri-ciri hukum yang bersifat barangkali: implikasi hanya bersifat barangkali dan tak pasti; ketakberlakuan sebuah implikasi tak mengugurkan hukum (ketakberlakuannya termasuk dalam hukum juga); lebih bercorak deskriptif\/laporan daripada prediktif.<\/span><\/p>\n<h5><b>5. Teori Ilmiah<\/b><\/h5>\n<p><b><i>Apakah teori ilmiah itu?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Hukum-hukum serumpun diabstraksi (dilucuti sifat konkretnya) menjadi teori ilmiah. Hukum (dan hipotesis) masih bersifat empiris, yakni bisa dibuktikan salah secara indrawi. Namun teori ilmiah mengelak untuk diperiksa secara empiris. Sifatnya abstrak \u00a0dan umum sekali. Akibatnya: tak terkalahkan dan tak tergugurkan. Peranan rasio dan logika lebih besar daripada pengalaman dan fakta. Tapi teori bukanlah metafisika. Mengapa? Karena dasarnya adalah kumpulan hipotesis dan hukum empiris. Teori adalah \u201ejembatan rasional\u201c di antara mereka. <\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Contoh: Hukum: hukum gravitasi, pembiasan cahaya, magnetik<\/span><\/p>\n<ul>\n<li style=\"font-weight: 400\"><span style=\"font-weight: 400\"> \u00a0Teori: teori atom, teori kuantum, teori cahaya, teori relativitas (ini paling abstrak)<\/span><\/li>\n<\/ul>\n<p><b><i>Bagaimanakah struktur teori ilmiah itu?<\/i><\/b><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400\">Struktur teori: (1) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">internal principles<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">: titik tolak penjelasan berupa model (misal: model atom); (2) <\/span><i><span style=\"font-weight: 400\">bridge principles<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400\">: penghubung antara model dan hukum-hukum yang mau diteorikan; (3) kesimpulan (kurang ketat daripada konklusi deduktif-nomologis).<\/span><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>1. Proses Riset Langkah-langkah apa yang harus diambil untuk penelitian ilmiah? Menyusun hipotesis-hipotesis (titik tolak: problem\/anomali; observasi; perumusan problem) Mencoba memberi bukti dan penalaran atas hipotesis tsb. Hipotesis yang diperkuat mendapat status hukum Hukum-hukum serumpun diabstraksi menjadi teori ilmiah &nbsp; Apa itu \u201econtext of discovery\u201cdalam sebuah riset ilmiah? Context of discovery adalah proses mengidentifikasi masalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":18,"featured_media":106,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[4],"tags":[],"class_list":["post-105","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-article"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/users\/18"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=105"}],"version-history":[{"count":3,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":108,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/105\/revisions\/108"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/media\/106"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=105"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=105"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/research.binus.ac.id\/crosscomm\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=105"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}